Aturan tentang larangan pernikahan antarras oleh penguasa kolonial membuat praktik prostitusi adalah hal yang paling bisa diterima oleh para pemimpin Belanda.[27]
Tumpuan hujung-hujung saraf yang terletak di lubang faraj menyebabkan seseorang wanita merasa seronok semasa aktiviti seks apabila dia dirangsang, dan mungkin berakhir dengan puncak syahwat. Aktiviti ini termasuk persetubuhan heteroseksual di mana lelaki memasukkan zakar ke dalam faraj wanita. Semasa persetubuhan, haba, tekanan dan geseran faraj pada zakar merangsang lelaki, biasanya menyebabkannya mencapai puncak syahwat dan pancutan mani yang boleh menyebabkan persenyawaan dan kehamilan.
Ketika menyebut bentuk vagina berarti merujuk pada bagian luar alat kelamin yang terlihat. Istilah yang tepat untuk daerah ini adalah vulva yang mencakup banyak struktur, seperti labia mayora dan labia minora, atau bibir dalam dan luar. Bagian ini juga merupakan lipatan kulit yang mengelilingi lubang vagina dan lubang uretra.
Sebagian wanita memiliki labia yang terselip di vulva atau bibir luar vagina yang lebih besar dan menutupi labia minora.
Selama periode awal kolonial Belanda, pria Eropa yang hendak memperoleh kepuasan seksual mulai mempekerjakan pelacur atau selir (nyai) yang berasal dari wanita lokal. Para perempuan lokal melakoni aksi prostitusi ini karena termotivasi oleh masalah finansial, bahkan tak jarang ada keluarga, yang mengajukan anak perempuan mereka untuk dilacurkan.
Pada sebuah lokasi prostitusi elit di Batavia para perempuan didatangkan secara khusus oleh mucikari mereka dari Makau. Prostitusi untuk kalangan rendahan biasa ditemukan di kawasan Glodok dan Mangga Besar, di mana para penduduk kota mengenali penyakit sifilis yang timbul akibat prostitusi itu sebagai penyakit mangga.[39]
Lubang faraj dengan bulu ari-ari yang dibuang dan labia yang dipisahkan untuk menunjukkan pembukaan faraj:
Pelincir faraj dihasilkan oleh kelenjar Bartholin berdekatan dengan pembukaan faraj dan serviks dan juga meresap dalam dinding faraj (yang tidak mengandungi sebarang kelenjar).
Faraj pada dirinya adalah organ yang membersihkan diri dan tidak perlu pengolahan atas nama kebersihan diri. Douche tidak digalakkan oleh doktor-doktor kerana amalan ini mengganggu keseimbangan flora faraj dan more info boleh menyebabkan penyakit keradangan pelvis.
Pada awal tahun 1800-an praktik prostitusi mulai meluas, ketika itu jumlah selir yang dipelihara oleh tentara Kerajaan Hindia Belanda dan pejabat pemerintah menurun. Sementara perpindahan laki-laki pribumi meninggalkan istri dan keluarga mereka untuk mencari pekerjaan di daerah lain juga memberikan kontribusi besar bagi maraknya praktik prostitusi pada masa itu.
Mereka yang berhubungan seks dengan pelacur ini akan menderita luka bernanah dan mati sesudahnya. Ini adalah catatan awal prostitusi dan hubungannya dengan penyakit menular seksual di Jawa kuno.[25]: 119
Serat Centhini juga mengatakan bahwa dulu pernah ada bordil yang ramai di dekat makam kerajaan di Imogiri.[28]
Serat Centhini, sebuah manuskrip Jawa dari awal abad ke-19, merujuk pada bisnis prostitusi di Jawa Tengah dan Yogyakarta. Manuskrip itu menjelaskan berbagai posisi dan teknik seksual yang dikuasai oleh pelacur-pelacur di Jawa untuk memuaskan pelanggannya.
Jumlah pelacur terdaftar di Indonesia, dari tahun 1984 hingga 1995 Prostitusi tidak secara khusus dibahas dalam undang-undang. Namun, banyak pejabat menafsirkan "kejahatan terhadap kesusilaan/moralitas" untuk diterapkan pada pelacuran. Prostitusi tersebar luas dan sebagian besar ditoleransi, terlepas dari kontradiksinya dengan norma-norma sosial dan agama yang populer[eighteen] Prostitusi paling nyata dimanifestasikan di kompleks bordil Indonesia, atau lokalisasi, yang ditemukan di seluruh negeri.